Minggu, 28 Januari 2018

3 contoh teks cerita sejarah lengkap dengan strukturnya

Halo semua, pada kesempatan ini admin akan memberikan kalian 3 contoh teks cerita sejarah lengkap dengan strukturnya. Selain itu contoh teks cerita sejarah ini juga sudah sesuai dengan kaidah 5W+1H. Seperti sudah kita ketahui bahwa teks cerita sejarah adalah teks yang didalamnya menceritakan dan menjelaskan tentang fakta dan kejadian masa lalu yang pernah terjadi  yang memiliki nilai sejarah.
contoh teks cerita sejarah dan strukturnya

Struktur Teks Cerita Sejarah
Teks cerita sejarah dibangun oleh 3 struktur, diantaranya yaitu sebagai berikut.
1. Orientasi, merupakan bagian awal (pengenalan) dari sebuah teks cerita sejarah.
2. Urutan Peristiwa, adalah rekaman peristiwa sejarah yang pernah terjadi. Urutan peristiwa ini biasanya disampaikan secara kronologis (berurutan).
3. Reorientasi, merupakan bagian yang biasanya berisi opini atau komentar dari penulis tentang peristiwa sejarah yang diceritakan di dalam teks. Bagian ini hanyalah “opsi:, artinya boleh ada ataupun tidak.

Teks Cerita Sejarah 1
Tsunami Aceh
Orientasi
Peristiwa yang sangat memilukan terjadi di bumi serambi Mekkah Aceh. Gempa bumi dan Tsunami Aceh pada hari Minggu pagi, 26 Desember 2004. Kurang lebih 500.000 nyawa melayang dalam sekejab di seluruh tepian dunia yang berbatasan langsung dengan samudra Hindia. Di daerah Aceh merupakan korban jiwa terbesar di dunia dan ribuan banguan hancur lebur, ribuan pula mayat hilang dan tidak di temukan dan ribuan pula mayat yang di kuburkan secara masal.

Urutan Peristiwa
Gempa terjadi pada waktu tepatnya jam 7:58:53 WIB. Pusat gempa terletak pada bujur 3.316° N 95.854° E kurang lebih 160 km sebelah barat Aceh sedalam 10 kilometer. Gempa ini berkekuatan 9,3 menurut skala Richter dan dengan ini merupakan gempa Bumi terdahsyat dalam kurun waktu 40 tahun terakhir ini yang menghantam Aceh, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika.
Kepanikan ini terjadi dalam durasi yang tercatat paling lama dalam sejarah kegempaan bumi, yaitu sekitar 500-600 detik (sekitar 10 menit). Beberapa pakar gempa mengatakan menganalogikan kekuatan gempa ini, mampu membuat seluruh bola Bumi bergetar dengan amplitude getaran diatas 1 cm. Gempa yang berpusat di tengah samudera Indonesia ini, juga memicu beberapa gempa bumi diberbagai tempat didunia.
Gempa yang mengakibatkan tsunami menyebabkan sekitar 230.000 orang tewas di 8 negara. Ombak tsunami setinggi 9 meter. Bencana ini merupakan kematian terbesar sepanjang sejarah. Indonesia, Sri Lanka, India, dan Thailand merupakan negara dengan jumlah kematian terbesar.
Kekuatan gempa pada awalnya dilaporkan mencapai magnitude 9.0. Pada Februari 2005 dilaporkan gempa berkekuatan magnitude 9.3. Meskipun Pacific Tsunami Warning Center telah menyetujui angka tersebut. Namun, United States Geological Survey menetapkan magnitude 9.2. atau bila menggunakan satuan seismik momen (Mw) sebesar 9.3.
Kecepatan rupture diperkirakan sebesar 2.5km/detik ke arah antara utara – barat laut dengan panjang antara 1200 hingga 1300 km. Menurut Koordinator Bantuan Darurat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Jan Egeland, jumlah korban tewas akibat badai tsunami di 13 negara (hingga minggu 2/1/2005) mencapai 127.672 orang.
Namun jumlah korban tewas di Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Afrika Timur yang sebenarnya tidak akan pernah bisa diketahui, diperkirakan sedikitnya 150.000 orang. PBB memperkirakan sebagian besar dari korban tewas tambahan berada di Indonesia. Pasalnya, sebagian besar bantuan kemanusiaan terhambat masuk karena masih banyak daerah yang terisolir.
Sementara itu data jumlah korban tewas di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara menurut Departemen Sosial RI (11/1/2005) adalah 105.262 orang. Sedangkan menurut kantor berita Reuters, jumlah korban Tsunami diperkirakan sebanyak 168.183 jiwa dengan korban paling banyak diderita Indonesia, 115.229 (per Minggu 16/1/2005). Sedangkan total luka-luka sebanyak 124.057 orang, diperkirakan 100.000 diantaranya dialami rakyat Aceh.
Menurut U.S. Geological Survey korban tewas mencapai 283.100, 14.000 orang hilang dan 1,126,900 kehilangan tempat tinggal. Menurut PBB, korban 229.826 orang hilang dan 186.983 tewas. Tsunami Samudra Hindia menjadi gempa dan Tsunami terburuk 10 tahun terakhir.
Di Indonesia, gempa dan tsunami menelan lebih dari 126.000 korban jiwa. Puluhan gedung hancur oleh gempa utama, terutama di Meulaboh dan Banda Aceh di ujung Sumatera. Di Banda Aceh, sekitar 50% dari semua bangunan rusak terkena tsunami. Tetapi, kebanyakan korban disebabkan oleh tsunami yang menghantam pantai barat Aceh.
Pemerintahan daerah Aceh lumpuh total, saat terjadi gempa bumi dan Tsunami Aceh, kebetulan di Jakarta sendiri sedang di adakan acara Halal Bi Halal masyarakat Aceh pasca menyambut lebaran Idul Fitri. Gempa Bumi yang terjadi pada jam 08:00 WIB dengan 9 Skala Richter Pada tanggal 26 Desember 2004, gempa Bumi dahsyat di Samudra Hindia, lepas pantai barat Aceh. Tepat jam 09:00 WIB satu persatu masyarakat Aceh yang hadir di Istora Jakarta panik karena hubungan telepon seluler ke Aceh putus total, mata mereka pada berkaca-kaca.

Reorientasi
Peristiwa ini merupakan salahsatu peristiwa yang sangat mengenaskan dan paling banyak memakan korban yang pernah terjadi di Indonesia. Semoga kejadian ini tidak terjadi kembali di negri kita yang tercinta ini.

Teks Cerita Sejarah 2

Kemerdekaan Indonesia
Orientasi
Berawal dari pecahnya “Perang Asia Timur Raya “ , dan Amerika menyatakan perang kepada Jepang karena serbuan tentara Jepang di Pusat Pertahanan Amerika Serikat “Pearl Harbour” pada tgl 8 Desember 1941. Tentara Jepang dengan Angkatan Laut dan Angkatan Udaranya semakin agresif beraksi mendarat di wilayah Indocina ,Filipina , Malaya dan Indonesia. Pemerintah Hindia Belanda ikut ikutan Sekutu menyatakan perang dengan Jepang. Jepang mendarat ke Indonesia dengan tujuan melumpuhkan pasukan Belanda .Pendaratan pertama tentara Jepang di Tarakan kemudian merambah ke daerah Balik Papan,Manado, Ambon, Makasar, Pontianak dan Palembang. Daerah daerah di Jawa juga dikuasainya ,pada tgl 1 Maret 1942 ,Jepang mendarat di BAnten, Indramayu dan Rembang. Wilayahnya semakin meluas dengan dikuasainya Batavia tgl 5 Maret 1942 , dan semakin merajalela ke wilayah Surakarta, Cikampek, Semarang dan Surabaya . Belanda semakin terdesak dengan penyerangan Jepang dan Ooh akhirnya Pemeritah Hindia Belanda menyatakan “menyerah tanpa syarat”.
Urutan Peristiwa
Masyarakat Indonesia pada awalnya menyambut dengan ramah kedatangan militer Jepang , dapat dilihat dari sikap kooperatif tokoh tokoh Nasional kita Ir. Soekarno dan Moh Hatta. Pemerintahan Jepang mulai aktif merangkul rakyat dengan pembentukan organiasasi masyarakat , yang sebenarnya “ada udang di balik batu” sebenarnya dibalik itu untuk kepentingan Jepang di Perang Dunia II. Organisasi itu antara lain :Gerakan Tiga A, Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA), Jawa Hokokai, Seinendan, Keibodan, Fujinkai, Heiho, MIAI, Pembentukan BPUPKI.
BPUPKI(Badan Penyelidik Usaha Usaha Persiapan Kemerdekaan RI) dibentuk pada th 1943 dibawah pemerintah Perdana Menteri Tojo, bertugas untuk mempelajari dan menyelidiki hal hal yang penting dan perlu bagi pembentukan pemerintah Indonesia. Dalam perkembangannya selanjutnya BPUPKI dibubarkan dan diganti nama oleh tokoh pejuang kita , dari BPUPKI menjadi PPPKI atau dikenal dengan Docoritsu Junbi Inkai, dengan penggantian nama ini terkesan bahwa organisasi PPPKI bukan bentukan Jepang tetapi hasil kesepakatan dan perjuangan para tokoh kemerdekaan Indonesia. Peristiwa penting yaitu pertemuan Soekarno ,M Hata dan Rajiman Wedyodiningrat dengan Jenderal Terauchi di Dalat menyampaikan bahwa pemerintah Jepang telah memutuskan akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia yang wilayahnya meliputi bekas wilayah Hindia-Belanda.
Pasukan Jepang mulai melemah, kekalahan dan kekalahan diperolehnya dan Amerika semakin kuat, apalagi setelah menarik pasukannya yang ada di Eropa. Serangan Jepang dapat dihentikan oleh tentara Amerika antara lain pada bulan Mei 1942 di pertempuran Laut Koral dan Juni 1942 di Pertempuran Midway. Jepang semakin klepek klepek karena Amerika mengamuk sehingga pada tgl 6 Agustus 1945 AS menjatuhkan Bom Atom pertamanya di Hiroshima . Amerika belum puas juga dan tiga hari kemudian tanggal 9 Agustus Bom Atom kedua mendarat kembali di kota Nagasaki, dua pusat kota pemerintahan Jepang menjadi hancur rata dengan tanah. Akhirnya Ohhhh Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada tgl 14 Agustus 1945. Penyerahan kalah itu dilakukan di kapal Missouri pada tanggal 2 September 1945 oleh Kaisar Hirohito(Jepang) dan Jendral Douglas Mc Arthur (Sekutu).
Reorientasi
Berita kekalahan Jepang terhadap Sekutu tidak dapat disembunyikan, dengan perjanjian Post Dam Jepang menyerahkan kekuasaannya kepada Sekutu dan otomatis di Indonesia terjadi kekosongan kekuasaan . Kesempatan ini dimanfaatkan oleh bangsa Indonesia dengan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Teks Cerita Sejarah 3


Gempa Bumi Sumatera Barat 30 September 2009
Orientasi
BMKG 30/9/15, Hari ini 6 (enam) tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 30 September 2009 pukul 17:16:09 WIB seluruh wilayah Sumatera Barat merasakan guncangan gempabumi yang sangat kuat, guncangan yang disebabkan oleh gempabumi tersebut juga dirasakan di kota-kota Sumatera lainnya, bahkan guncangan tersebut terasa sampai ke Singapura, Malaysia, Thailand dan juga di Jakarta dengan intensitas III MMI. Gempabumi dengan kekuatan 7.9 SR dengan kedalaman 71 km dan pusat gempa pada 0.84 LS – 99.65 BT ini kurang lebih sekitar 57 Km Barat Daya Pariaman, Sumatera Barat, gempa ini telah memporak-porandakan hampir seluruh wilayah Sumatera Barat khususnya wilayah pantai Barat Sumbar.

Urutan Peristiwa
Melihat hasil peta guncangan (shakemap) yang diakibatkan oleh gempabumi tanggal 30 September 2009, maka intensitas guncangan gempa yang sangat kuat terjadi di Pariaman, Agam, Padang dengan intensitas VIII MMI, berdasarkan skala Modified Mercalli Intensity merupakan skala ukuran kerusakan akibat gempabumi berdasarkan pengamatan efek gempabumi terhadap manusia, struktur bangunan, lingkungan pada suatu tempat tertentu maka intensitas pada skala VIII MMI ini dapat menyebabkan kerusakan pada bangunan yang tidak kuat , kerusakan ringan pada bangunan-bangunan dengan konstruksi yang kuat, retak-retak pada bangunan yang kuat, dinding dapat terlepas dari kerangka rumah, sedangkan kota-kota di Sumatera Barat lainnya dengan intensitas VI-VII MMI antara lain di Bukit Tinggi, Padang Panjang,Pasaman, Pasaman Barat, Batu Sangkar, Solok, Solok selatan, dan Pesisir Selatan.
Gempa bumi tersebut telah menyebabkan sedikitnya 1100 orang meninggal, 2180 orang luka-luka dan 2650 bangunan rumah rusak berat/ringan termasuk gedung-gedung kantor, sekolah, rumah sakit, tempat ibadah, pasar, jalan, jembatan dengan kerusakan paling parah sepanjang pantai Barat Sumatera Barat juga telah menyebabkan jaringan listrik dan komunikasi terputus, sebagian besar korban disebabkan karena tertimpa reruntuhan bangunan dikarenakan kontruksi bangunan yang tidak aman,akibat gempa juga terjadi eksodus besar-besaran warga yang tinggal disekitar pantai ke tempat lain karena adanya isu akan datangnya gelombang tsunami.
Wilayah barat pulau Sumatera merupakan salah satu kawasan yang terletak pada pinggiran lempeng aktif dunia hal ini dapat dilihat pada tingginya kejadian gempabumi diwilayah ini karena wilayah ini adalah daerah pertemuan lempeng tektonik Indo-Australia dengan lempeng tektonik Eurasia. Sumber gempa di wilayah ini tidak hanya bersumber dari pertemuan lempeng tektonik tersebut tetapi juga dikarenakan adanya sesar Mentawai (Mentawai Fault System) dan sesar Sumatera (Sumatera Fault System). Dengan adanya 3 (tiga) sumber gempabumi tersebut menambah kompleknya tektonik wilayah Sumatera dan menyebabkan wilayah Sumatera merupakan daerah yang rawan terhadap Gempabumi.
Berdasarkan katalog gempabumi merusak BMKG, ke-tiga sumber gempabumi di Sumatera tersebut, baik gempabumi yang terjadi di Subduksi, sesar Mentawai dan sesar Sumatera telah menyebabkan kerusakan bangunan dan juga korban jiwa, yaitu dimulai pada tahun 1926 gempabumi terjadi disekitar danau Singkarak yang menyebabkan 354 orang meninggal dunia, kejadian gempabumi selanjutnya berturut-turut terjadi pada tahun 1977, 1979, 1993, 1994, 1995, 1998, 2004, 2005, 2007, 2008, 2009 dan 2010. Beberapa gempabumi tersebut disamping menyebabkan kerusakan bangunan juga menimbulkan tsunami.
Reorientasi
Kini setelah 6 tahun berlalu kejadian itu masih teringat pada sebagian besar masyarakat Sumatera Barat karena disamping diantaranya menjadi korban reruntuhan bangunan yang disebabkan oleh gempabumi juga sebagian dari mereka kehilangan keluarga dan harta bendanya dan mereka juga masih trauma dengan kejadian gempabumi 30 September 2009.
Mengingat wilayah Sumatera merupakan wilayah yang rawan terjadinya gempabumi dimana gempabumi juga mempunyai return periode kejadiannya maka dengan melihat kembali sejarah kejadian gempabumi dimasa lalu dapat meningkatkan kesadaran kita akan pentingnya pemahaman tentang gempa bumi, Mengetahui daerah-daerah rawan gempabumi, respon atau tindakan sebelum,sesaat dan setelah terjadinya gempabumi haruslah dipahami dan yang penting adalah sosialisasi yang menerus kepada masyarakat tentang ancaman bahaya gempabumi serta sosialisasi dari pemerintah pusat daerah dan juga lembaga swadaya masyarakat tentang pentingnya kontruksi rumah aman gempa pada daerah rawan gempa, sedangkan masyarakat yang tinggal didaerah pantai disamping memahami hal tersebut diatas juga mengetahui jalur-jalur evakuasi yang sudah ada disetiap wilayah perkampungan, juga meningkatkan kesadaran tentang pentingnya melakukan evakuasi sesegera mungkin sesaat setelah merasakan guncangan gempabumi yang kuat untuk menjauh dari pantai mencari tempat-tempat yang tinggi.(gst)

Sabtu, 27 Mei 2017

Mengunjungi Ladang Pembantaian di Killing Field Memorial Kamboja




Pertama kali masuk ke area Killing Field di Desa Cheong Ek sekitar 15 kilometer dari Phnom Penh, Anda tidak akan bisa membayangkan bahwa tempat tersebut adalah bekas ladang pembantaian ribuan rakyat Kamboja saat era rezim Khamr Merah berkuasa. Dilihat sekilas lokasi tersebut hanya seperti taman biasa yang ditumbuhi banyak pepohonan juga dipenuhi ilalang, dengan sebuah monumen indah dilihat dari kejauhan.






Mendekat masuk ke dalam area Killing Field, kita akan menjumpai sebuah monumen yang menyimpan ribuan tulang korban pembantaian. Kebanyakan mereka adalah dokter, guru, pengacara, dan golongan terdidik lainnya. Rezim Khmer Merah yang dipimpin Pol Pot saat itu memaksakan ideologi komunis dan ingin membentuk negara agraris-sentris.
Para kaum terpelajar dianggap mengancam kekuasaannya sehingga harus dihabisi termasuk keluarga mereka. Siapapun yang dicurigai berseberangan dengannya akan langsung diciduk dan digelandang ke ladang pembantaian untuk disiksa dan dibunuh secara kejam. Selama kekuasaan Pol Pot, ribuan rakyat Kamboja dibunuh dan dieksekusi dengan cara keji.





Pengunjung berdiri atau duduk sambil mendengarkan audio yang menjelaskan informasi tentang berbagai hal di lokasi tersebut tersebut, mulai dari alat penyiksa, bekas galian makam, tumpukan baju para korban, bahkan pohon di mana bayi-bayi dibunuh dengan cara dihantamkan ke batangnya.
Benar-benar peristiwa yang tidak bisa dinalar dengan akal dan mampu membuat bulu kuduk merinding. Sangat ganjil rasanya berjalan di sekitar lokasi tersebut, membayangkan bahwa tanah yang sedang kita pijak, dulunya pernah berlumuran darah para korban. Juga tanah bekas puluhan ribu orang meninggal dan dimakamkan secara massal.





Setelah rezim Khmer Merah berakhir, dilakukan penggalian di tempat itu dan telah ditemukan sekitar 20.000 jenazah pria, wanita, juga anak-anak dan bayi korban kekejaman tentara Khmer Merah. Di salah satu bagian Killing Field terdapat bekas galian tempat para korban dimakamkan secara massal. Tempat tersebut kini dibangun sebuah bangunan sederhana beratapkan rumbia dan dikelilingi dengan pagar bambu. Uniknya di antara pagar bambu tersebut tergantung ribuan gelang berbagai macam warna, model dan bentuk.
Untuk berbagai macam alasan, para pengunjung meninggalkan gelangnya di sana. Mungkin sebagai bentuk dukacita, rasa cinta, juga doa. Sebab apalagi yang bisa kita lakukan di tempat di mana ribuan orang meninggal dan ironisnya dibunuh secara kejam di tangan saudara sebangsa sendiri.


Ribuan gelang berwarna-warni yang tergantung di sana adalah simbol duka dan cinta. Juga sebuah harapan bahwa tragedi berdarah tersebut tidak akan pernah lagi terjadi di tanah manapun di dunia ini. 

Jadi inget Lagunya Dead Kennedys - Holyday In Cambodia -

 Trimakasih buat yang udah mampir  

Selasa, 23 Mei 2017

Tentang Sejarah Perang Pasifik

Sejarah Perang Pasifik

Perang Pasifik / Perang Asia Pasifik, atau kalau di Jepang di kenal dengan sebutan Greater East Asia War (Perang Asia Timur Raya), Adalah merupakan perang yang terjadi di wilayah Samudra Hindia dan pulau-pulau lain di Asia. Konflik ini dulunya terjadi sekitar tahun1937 – 1945.
Akan tetapi, justru peristiwa penting yang terjadi adalah peristiwa setelah tanggal 7 Desember 1941. Peristiwa tersebut ditandai dengan seranganJepang ke Amerika Serikat serta wilayah yang dibawah kekuasaan Britania Rayadan negara lain yang telah dikuasai sekutu. Perang ini merupakan salah satu perang terbesar di dunia, khususnya pada era tersebut.
Sejarah Perang Pasifik
Sejarah Perang Pasifik
Lantas apa yang melatarbelakangi peristiwa perang besar  ini, dan negara mana saja yang berperan di dalamnya? Semuanya akan terjawab dalam artikel berikut ini. Silahkan disimak ulasan singkat mengenai perang ini.

Latar Belakang Perang Pasifik

Jepang mempunyai rencana licik, yaitu ingin menjadikan Asia Timur sebagai wilayah baru yang bisa dimanfaatkan untuk lahan pemukiman dan yang SDA-nya bisa di-eksploitasi. Sedangkan rencana tersebut ditentang oleh Rusiayang menginginkan wilayah Asia Timurdidirikan pelabuhan laut, karena air laut-nya yang tidak pernah membeku sepanjang tahun.
Karena perselisihan tersebut lah akhirnya berujung pada meletus-nya perang antara Jepang – Rusia, yang terjadi sekitar tahun 1904-1905 dan dimenangkan oleh Jepang. KemenanganJepang tersebut lantas dijadikan bahan kesombongan untuk bisa lebih leluasa memperluas wilayah kekuasaannya.
Wilayah kekuasaan Jepang (pada tahun1931) meliputi Cina Timur Laut danSemenanjung Korea. Banyak kritikan dilontarkan dari negara Barat lain kepada Jepang ketika wilayah Cinaberhasil diinvasi. Jepang tidak bergeming. Jepang justru menganggap negara Barat yang menjatuhkan embargo bahan mentah sebagai tindakan menguasai Jepang perlahan-lahan.
Upaya negara Barat mengembargoJepang dengan tujuan agar Jepang mau menghentikan agresi militer-nya ditolak mentah – mentah. Dan Jepanglebih memilih untuk menginvasi Asia Tenggara, menguasai daerah yang kaya akan sumber daya alamnya.
Jepang pada akhirnya berhasil menjadikan menjadikan Pearl Habor diKepulauan Hawaii yang dimiliki ASsebagai sasaran pertama untuk mencegah terganggunya pergerakan pasukan Jepang di Asia Tenggara.

Berlangsungnya Perang Pasifik

Peristiwa penting yang saya maksudkan di atas adalah justru yang terjadi pada tanggal 7 Desember 1941 dimana Jepangmenyerang Pearl Harbor secara mendadak. Hampir semua kapal tempurAS dapat dimusnahkan Jepang, hanya beberapa saja yang bisa lolos. Hampir separuh pejuang AS mati dan badannya diabadikan kapal tempur tersebut.
Pada pertengahan bulan Maret 1942Jepang berhasil menguasai seluruh Asia Tenggara. Pemerintahan boneka didirikan. Kemudian mengangkat Chester Nimitz dan Douglas MacArthur sebagai pemimpin pasukan Sekutu di Front Pasifik.
Pasukan Jepang dari Rabaul (utara PulauNew Guinea) lalu diperintahkan untuk menguasai Port Moresby (bagian selatan New Guinea) dan bertujuan agar bisa menjadikan kota tersebut sebagai pangkalan baru untuk memukul mundurAustralia. Dan rencana tersebut gagal, karena berhasil dipukul mundur dahulu oleh pasukan AS yang berada di Laut Koral.
Jepang mengalihkan fokus menguasaiPulau Midway setelah gagal menguasaiPort Moresby. Rencana tersebut juga gagal karena AS berhasil menyadap percakapan militan Jepang yang pada akhirnya mengetahui jika Jepang beralih fokus untuk menguasai Midway.Sehingga sekutu AS bisa menyusun dan melancarkan aksi melumpuhkan Jepang.
Dan kemenangan dari pertempuran diMidway berada ditangan sekutu AS.

Akibat yang timbul dariPerang Pasifik

Selain banyak memakan korban jiwa, bahkan ditaksir sekitar 25 juta jiwa yang melayang, dampak lain yang ditimbulkan dari adanya Perang Pasifikadalah sebagai berikut:
  • Kemenangan Blok Sekutu menjadikan Kepulauan Jepang berhasil diduduki juga oleh sekutu.
  • Wilayah yang sempat diinvasi Jepangkembali jatuh ke tangan penguasa lamanya.
  • Beberapa negara jajahan Eropaberhasil memerdekakan diri, termasukIndonesia.
  • Kekalahan Jepang mengakibatkanJepang kehilangan wilayah jajahan dalam Perang Dunia I meliputi Korea,Manchuria, Asia Tenggara dan beberapa daerah di Kepulauan Pasifik
  • Jepang tidak diperbolehkan memiliki angkatan perang
  • Kaisar Jepang kehilangan status “dewa”, yang selama itu di agung-agungkan rakyatnya
Demikian diatas adalah informasi terkait Sejarah Perang Pasifik. Semoga bermanfaat

Pidato Joseph Goebbels pada Pemulaan Tahun Baru 1940

Pengantar
Pidato ini disampaikan Goebbels pada tanggal 31 Desember 1939 untuk perayaan tahun baru di Jerman. Permulaan perang telah berjalan dengan baik. Goebbels menilai tahun 1939 untuk menunjukkan  bahwa Jerman sama sekali tidak memiliki kesalahan (Dalam pidato ini, Goebbels menghindari subjek pembahasan tentang perjanjian Molotov-Ribbentrop), dan tidak membuat suatu prediksi untuk tahun ke depan selain menyatakan bahwa tahun-tahun ke depan akan merupakan tahun-tahun yang teramat sulit bagi bangsa Jerman.
Sumber
“Jahreswechel 1939/40. Sylvesteransprache an das deutsche volk,” Die Zeit ohne Beispiel (Munich: Zentraverlag der NSDAP, 1941)
Tahun Baru 1939/40
Image
Oleh Joseph Goebbels
Sangat sulit bagi saya ketika mengingat tahun-tahun yang telah lalu untuk mengajak dan memanggil rekan-rekan pendengar. Tidak ada kekurangan materi, tetapi sebaliknya, tahun 1939 merupakan tahun yang sangat dramatis dan dipenuhi oleh sejarah yang mengagumkan dan setiap orang mampu mengisi perpustakan dengan tulisan-tulisan semacam itu dan orang semacam itu untuk membuat tulisan-tulisan semacam itu akan mengalami kesulitan bagaimana harus memulainya.
Sebagian besar yang terjadi pada tahun lalu tampaknya sudah terjadi pada tahun-tahun atau bahkan pada beberapa dekade yang lalu. Itu adalah masa-masa yang sulit yang tercatat di dalam buku sejarah. Hal itu pun sudah pasti akan memberikan para sejarawan materi-materi yang cukup untuk dapat dijadikan bahan tulisan untuk masa sepuluh tahun ke depan. Mereka akan menjelaskan peristiwa-peristiwa dan mengamati motif-motif yang terjadi untuk dapat melihat pelaku-pelaku utama dalam peristiwa tersebut. Mereka akan mecoba untuk menjelaskan semua peristiwa yang membuat kita merasa tertekan atau  apa yang sudah kita lakukan dan usaha-usaha semacam itu mungkin akan mengalami kegagalan. Baik teman maupun lawan, pendukung ataupun penentang, semua pihak  akan mengakui bahwa tahun ini adalah tahun yang penuh dengan peristiwa hebat, tahun ketika sejarah dibuat, tahun yang mengubah wajah Eropa, tahun yang telah mengubah bentuk peta. Lebih dari itu, rakyat kita telah memperbaiki kehidupan nasionalnya pada tahun 1939, dimulai dengan usaha yang besar yang pada akhirnya mampu memutus rantai-rantai pembatas dan perbudakan dan sekali lagi telah menempatkan kita pada posisi dengan kekuatan hebat setelah kejatuhan yang kita alami setelah tahun 1918. Saat para sejarawan rajin menyelidiki tahun ini, kekhawatiran dan kesulitan yang kita alami akan segera dilupakan; pengorbanan yang kita rasakan akan ringan dan semakin ringan; air mata dan darah yang selama ini tertumpah akan tertutupi selamanya di dalam Pemerintah Reich yang kita jaga bersama.
Pada awalnya, hal ini menjadi jelas bagi semua orang yang tidak hanya membaca sejarah, tetapi juga yang mengalaminya bahwa tahun ini akan memberikan dampak yang luar biasa bagi nasib bangsa Jerman dan rakyat Eropa pada umumnya. Benar, dua bulan pertama adalah masa yang relatif lancar, tetapi dia yang dapat melihat dengan jelas memahami bahwa saat ini hanyalah masa yang damai sebelum terjadinya badai. Semua orang telah merasakan bahwa tahun ini akan penuh dengan keputusan-keputusan penting.
Pada tanggal 13 Februari, warga Jerman di Bohemia dan Moravia telah sadar bahwa legalitas, ekonomi, dan situasi sosial mereka dalam pemerintahan Cekoslowakia tidak akan mengalami perkembangan yang baik, bahkan menjadi semakin memburuk. Pada tanggal 22 Februari, orang-orang Slowakia meminta kebebasannya. Pada permulaan bulan Maret terjadi beberapa kali penganiayaan terhadap rakyat Jerman di Praha, Brunn, dan beberapa kota lain di Bohemia dan Morevia. Pada tanggal 8 Maret Pemerintah Carpathia-Ukrania di Praha memprotes penunjukkan seorang Jenderal Cekoslowakia sebagai Menteri Dalam Negeri Carpathia-Ukrania. Pada tanggal 10 Maret, Pemerintah Cekoslowakia menggulingkan Pemerintahan Slowakia dan penganiayaan terhadap orang Jerman di Bohemia dan Moravia semakin meningkat. Telah semakin jelas bahwa pada masa itu diperlukan adanya suatu solusi yang selalu dipikirkan oleh bangsa Jerman selama beberapa abad. Pada tanggal 13 Maret, pemimpin Slowakia, Tiso, mengunjungi Fuhrer dan pada tanggal 14 Maret, Presiden Cekoslowakia menaruh nasib Bohemia dan Moravia di tangan Fuhrer.
Tentara Jerman kemudian memasuki Bohemia dan Moravia. Diikuti oleh tatapan mata rakyat Jerman dan seluruh dunia dengan menahan napas  penuh ketertarikan melihat Fuhrer mengambil tempat di Kastil Praha. Slowakia mendeklarasikan kemerdekaannya pada hari yang sama dan sehari setelahnya, Fuhrer mengeluarkan dekrit perlindungan terhadap Bohemia dan Moravia. Slowakia pun berada di bawah perlindungan Reich. Pada akhirnya, Bohemia dan Moravia menemukan solusi. Pada tanggal 22 Maret, distrik Memel kembali ke Reich.
Sejajar dengan perkembangan ini, pertanyaan mengenai Polandia begitu meningkat. Pada tanggal 5 permulaan Januari, Fuhrer menerima menteri luar negeri Polandia, Jozef Beck, di Obersalzberg. Fuhrer mengingatkannya akan karakter German yang terdapat pada Danzig dan memberi saran untuk meningkatkan hubungan antara Jerman dan Polandia. Akan tetapi, porposal ini tidak didengar. Setelah muncul reaksi London dan Paris, kini semua orang tahu mengapa Polandia tidak mau menanggapi permintaan Fuhrer.
Pada tanggal 31 Maret, segera setelah dikeluarkannya dekrit perlindungan terhadap Bohemia dan Moravia, London membenci laporan mengenai tentara Jerman yang berkumpul di garis perbatasan Polandia. Chamberlain melaporkan negosiasi Inggris-Polandia kepada parlemen untuk mendeklarasikan secara resmi mengenai dukungan penuh Inggris terhadap Polandia.
Polandia diberikan kebebasan oleh London untuk bertindak, dalam hal ini London telah menghasut Polandia untuk berperang dan berharap Warsawa akan memulai konflik yang dibutuhkan London untuk memulai apa yang selama ini mereka harapkan dan dengan saksama mereka persiapkan: Menyerang Reich.
Pemerintah Polandia di Warsawa paham akan hal ini dan pada bulan April memulai teror dan penganiayaan kepada warga Jerman melebihi dan melampaui apa yang bisa dibayangkan. Pada tanggal 13 April, beberapa kelompok anti-Jerman memulai penganiayaan di perbatasan Danzig. Serangan teroris terhadap warga Jerman meningkat di seluruh wilayah Polandia setelah Jerman meminta adanya peningkatan hubungan dengan Polandia. Konsulat Jerman di Polandia mengirim laporan yang tak terhitung tentang penganiayaan terhadap warga jerman ke Berlin. Pada tanggal 8 Mei, tiga ratus warga Jerman diusir dari negara tersebut.  Teater Jerman ditutup di Bromberg pada tanggal 9 Mei. Dua warga Jerman dibunuh warga Polandia di Lodsch pada tanggal 15 Mei dan pada tanggal 21 Mei, penduduk Danzig dibunuh oleh warga Polandia di Kalthof.
Seseorang akan bisa memahami kejadian itu semua setelah mempelajari bahwa pada tanggal 15 Mei, Menteri Perang Polandia berada di Paris untuk mengadakan pembicaraan rahasia dan perwakilan Jerman di warsawa pada tanggal 8 Mei telah melaporkan bahwa peta-peta telah dibagikan di kota-kota Polandia. Peta-peta tersebut menunjukkan garis perbatasan Polandia  telah diubah memasuki garis wilayah negara Jerman melewati Beuthen, Oppeln, Gleiwitz, Breslau, Stettin, dan Kolberg.
Situasi di Danzig meningkat di bawah tekanan Pemerintah Polandia. Pada tanggal 15 Juni, Duta Besar Jerman mengadakan protes melawan tindakan Polandia yang mencaci maki Fuhrer. Insiden perbatasan dan masalah-masalah lain meningkat antara bulan Juni dan Juli. Lalu, pada tanggal 4 Agustus, Pemerintah Polandia membuat ultimatum yang berisi penghinaan dan tindak provokatif mengenai isu-isu kelompok resistance yang memberikan perlawanan terhadap petugas-petugas Polandia. Danzig menolak ultimatum tersebut pada tanggal 7 Agustus. Polandia yang merasa berada dalam perlindungan Inggris memberikan balasan yang tidak memuaskan pada tanggal 10 Agustus. Pada tanggal 18 Agustus, pasukan SS kemudian digerakkan untuk mengamankan Kota Danzig. Semua elemen tampaknya bergerak menuju suatu peristiwa besar.
Kaum kapitalis Inggris berusaha untuk mencuci tangan mereka dan menyatakan tidak bertanggung jawab atas kejadian ini dan berusaha untuk membangun alibi berdasarkan moral untuk menjalankan suatu perang, tetapi bahkan orang buta pun dapat melihat apa yang sedang dilakukan oleh Inggris.
Pada tanggal 24 Agustus, negosiasi antara Danzig dan Polandia berakhir karena sikap Polandia yang keras kepala. Polandia terus meningkatkan provokasinya. Pada tanggal 25 Agustus, Polandia kembali terus memperburuk situasi dengan menembaki pesawat Jerman yang mengudara di dalam wilayah udara internasional, padahal di dalamnya terdapat Sekretaris Reich.
Reaksi London terhadap kejadian ini benar-benar secara jelas  menunjukkan sikap yang menantang berperang karena pada tanggal 25 Agustus mereka mendemonstrasikan perjanjian persekutuan antara Inggris dan Polandia. Sehari setelahnya, satu setengah juta tentara Polandia telah dipersenjatai.
Fuhrer telah berbicara di hadapan Parlemen Jerman pada tanggal 27 Agustus. Ia mengumumkan bahwa ada tiga masalah yang ingin Fuhrer selesaikan: Danzig, perbatasan, dan mencoba meningkatkan hubungan dengan Polandia untuk dapat menjamin kerja sama perdamaian.
Tindakan diplomasi terus diadakan di antara Berlin, Roma, London, dan Paris pada tanggal 28 hingga 31 Agustus. Fuhrer sekali lagi berusaha untuk mencari solusi perdamaian dengan mengumumkan bahwa Pemerintah Jerman selalu menunggu kehadiran utusan Polandia. Akan tetapi, Polandia justru malah memberikan tindakan provokatif dengan melakukan mobilisasi umum pada tanggal 30 Agustus. Radio Polandia pada tanggal 31 Agustus menyiarkan berita bahwa permintaan damai Jerman untuk mengakhiri masalah ini tidak dapat diterima. Konsulat Jerman lagi-lagi melaporkan 55 tindakan penganiayaan terhadap warga Jerman antara tanggal 25 hingga 31 Agustus. Tentara Polandia pun melakukan tindak pelanggaran serius mengenai masalah perbatasan pada tanggal yang sama.
Inilah sebabnya mengapa tentara kita bergerak memasuki Polandia pada tanggal 1 September. Fuhrer telah berbicara kepada parlemen bahwa kekerasan harus dibalas dengan kekerasan. Pada hari yang sama, Danzig memproklamasikan kemerdekaannya di bawah Pemerintah Reich.
Kampanye Polandia dan kejadian-kejadian yang mengikutinya merupakan hal yang unik dalam sejarah. Pada tanggal 2 September, Jablunka pass telah diambil alih. Tentara Polandia yang berada di perbatasan telah dihancurkan pada tanggal 4 September dan Bromberg telah diambil alih pada tanggal 6 September. Westernplatte jatuh pada tanggal 7 September, Lodsch telah dikuasai pada tanggal 10 September, dan Pengepungan Kota Radom telah rampung dilakukan pada tanggal 12 September. Sebanyak 52 ribu tentara Polandia menurunkan senjata mereka. Posen, Thorn, Gnesen, dan Gdingen jatuh di tangan Jerman pada tanggal 15 Spetember diikuti oleh kejatuhan Brest-Litovsk pada tanggal 17 September dan Pengepungan Weichselbogen um Kunto sukses dilaksanakan pada tanggal 18 September. Sebanyak 170 ribu tentara Polandia kemudian ditawan. Warsawa telah menyerah kalah pada tanggal 27 September dan diikuti Modlin dua hari berikutnya. Tentara Polandia telah dikalahkan dan dihancurkan.
Sebanyak lebih dari 700 ribu tentara Polandia ditangkap. Perlengkapan senjata yang diamankan begitu benyaknya: lebih dari setengah juta senjata, 16 ribu senapan mesin, 32 ribu artileri dan lebih dari 3 ¼ juta munisi artileri.
Agitasi-agitasi Inggris berjalan sukses. Semenjak perjanjian Munich, London telah berkali-kali meminta kita untuk berperang. Mereka meningkatkan hubungan bilateral antara London-Paris dan pada tahun 1939, Jerman telah dikepung. Kaum kapitalis London telah membuat situasi-situasi ini menjadi semakin mencekam dengan mempersiapkan peperangan terhadap Jerman. Perdana Menteri Inggris, Chamberlain dan Lord Halifax berada di Paris pada tanggal 10 Januari. Chamberlain telah berkata kepada parlemennya pada tanggal 5 Februari bahwa tentara dengan kekuatan penuh akan segera digerakkan untuk mendukung Perancis.
Pada  tanggal 18 Maret, Inggris dan Perancis memprotes tindakan Jerman yang melindungi Bohemia dan Moravia. Namun, perang dapat dihindari hanya karena Inggris dan Perancis belum siap untuk berperang. Walaupun demikian, ketika perlindungan terhadap Bohemia dan Moravia dilaksanakan, kampanye anti-Jerman meledak mencapai puncaknya di London dan Paris.
Pada saat bersamaan, hasutan-hasutan perang yang dilakukan oleh London menyebar dan menjelaskan kepada kita apa yang sebenarnya terjadi. Muncul laporan palsu pada tanggal 19 Maret bahwa Jeman telah memberikan ultimatum kepada Rumania. Menteri Luar Negeri Norwegia menyangkal laporan yang datang dari Paris tentang adanya ancaman yang dilakukan pihak jerman terhadap negara-negara Nordik pada tanggal 21 Maret. Kemudian pada tanggal 24 Maret, Inggris menjamin keamanan negara Belanda, Belgia, Switzerland, dan negara-negara di wilayah timur dan setiap hari Inggris selalu melayangkan laporan-laporan palsu mengenai ancaman Jerman terhadap negara-negara kecil.
Paris pun melakukan tindakan yang sama. Pemerintah Perancis tiba-tiba melakukan peningkatan kekuatan angkatan lautnya. Menteri Perdagangan Inggris, Hudson, mengunjungi Moskow pada tanggal 28 Maret. Surat kabar London menyebarkan berita-berita bohong mengenai pemusatan kekuatan tentara Jerman di garis-garis perbatasan Polandia. Pada hari yang sama, Chamberlain telah menyatakan sikap kepada parlemen bahwa Inggris akan berjuang bersama Polandia dan Rumania.
Fuhrer pada hari berikutnya mengingatkan tindakan pengepungan oleh Inggris ini dalam pidatonya di Wilhelshaven. Pada tanggal 5 April, Lord Stanhope mengatakan bahwa angkatan udara Inggris telah bersiap siaga. London telah menyiapkan munisi pada tanggal 20 April jika sewaktu-waktu diperlukan. Fuhrer,  di hadapan parlemen jerman tertanggal 28 April, membalas hasutan-hasutan Inggris ini sebagai bagian dari rencana kaum kapitalis Inggris. Fuhrer menyatakan bahwa penyediaan peralatan angkatan laut Jerman-Inggris dibatalkan, begitu pula dengan perjanjian Jerman-Polandia pada tahun 1934.
Sehari sebelumnya, Inggris telah menawarkan draf baru, draf perjanjian antara Inggris, Perancis, dan Rusia pada tanggal 14 Juni di Moskow. Tujuannya adalah untuk mengatur penyerangan terhadap Jerman, baik dari arah barat maupun timur.
Pada saat yang bersamaan, Inggris telah membuat tindakan bodoh dengan menyebarkan propaganda melalui leaflet, radio, dan surat kabar untuk menciptakan kebingungan di antara warga Jerman, sebuah tindakan yang sama yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Rencana mereka gagal. Rakyat Jerman dengan tekad bulat berdiri pasti mendukung Fuhrer., begitu pula dengan rencana Inggris untuk membuat Rusia mengepung Jerman  gagal total.
Perlu kalian ketahui, pada saat Duta Besar Inggris kembali dari London ke Berlin, Fuhrer dengan bermurah hati telah menawarkan sebuah proposal demi sebuah kesepahaman antara Jerman dan Inggris. Namun, Pemerintah Inggris ternyata tidak berniat untuk merespons itikad baik ini. Jawaban mereka  tiba pada tanggal 28 Agustus. Inggris telah mengklaim bahwa mereka telah menerima jaminan dari Pemerintah Polandia bahwa perundingan akan dilaksanakan bersama dengan pemerintah kita. Fuhrer kemudian membalas hal ini dengan mengatakan siap menerima delegasi negosiator dari Polandia pada hari Rabu tanggal 30 Agustus. Sore harinya pada tanggal tersebut, tanpa kehadiran delegasi yang ditunggu, Menteri Luar Negeri kita memberikan enam belas penawaran kepada Duta besar Inggris terkait permasalahan di Danzig, perbatasan, dan isu-isu Jerman-Polandia yang lain.
Akan tetapi, Polandia menjawab dengan kekerasan dan Fuhrer tidak memiliki alternatif lain selain membalas kekerasan dengan kekerasan.
Paris dan London menginginkan Jerman untuk menarik tentaranya dari Polandia pada tanggal 1 September. Pemerintah kita jelas menolak. Bahkan, pada tanggal 2 September, keinginan Mussolini untuk menyelesaikan masalah ini pun hanya berujung pada kegagalan karena pendirian Inggris yang keras kepala. Pada tanggal 3 September, London dan Paris memberikan peringatan kepada Jerman dan kemudian menyusul menyatakan perang.
Sekarang topeng penipuan telah terlepas dari wajah sang pemakai: London si penghasut perang. Ketika terjadi reshuffle kabinet pada tanggal 3 September, seseorang yang memimpin tindakan penghasutan ini ikut serta dan masuk ke dalamnya, Churchill dan Eden kini menjadi orang-orang yang secara resmi berada pada posisi yang menentukan kebijakan perang Inggris.
Perang yang dilakukan oleh negara-negara barat kini telah dimulai. Kebijakan luar negeri Fuhrer telah berjalan sukses untuk menggagalkan kampanye Inggris dalam usahanya mengepung Jerman. Inggris dan Perancis kini sendirian menentang Jerman.
Walaupun demikian, Jerman kini menghadapi tantangan baru. Semua hal yang diperlukan harus dilakukan untuk memastikan kemenangan perang. Pada tanggal 28 Agustus, diperkenalkanlah regulasi pendistribusian makanan dan barang-barang konsumer lainnya. Pada tanggal 30Agustus, Kementerian Pertahanan dibangun. Pada tanggal 1 September, pengukuran ekonomi yang bersifat komprehensif diumumkan, dan pada tanggal 5 September, Komisi Pertahanan Reich dengan segala bentuk kekuatannya didirikan. Hal-hal yang diperlukan untuk menjamin kehidupan tentara diimplementasikan pada tanggal 20 Oktober.  Sebagai permulaan, pada tanggal 6 November, kita bisa meningkatkan pendistribusian bahan makanan. Kemudian pada tanggal 16 November, pendistribusian pakaian diberlakukan, dan pada tanggal 20 November pendistribusian yang lebih baik akan diberlakukan bagi mereka yang bekerja pada malam hari atau bagi mereka yang menginginkan tempat tinggal.
Negara kita dan wilayah-wilayah garis depan merayakan Natal dengan menunjukkan diri sebagai komunitas-komunitas yang tangguh. Fuhrer bersama dengan pasukan berada di tembok barat perbatasan untuk memperingati Natal dan Tahun baru. Tahun 1939 berakhir dengan kepercayaan diri masyarakat Jerman dengan sikapnya yang tangguh dan percaya akan sebuah kemenangan.
Tahun-tahun yang lalu telah pergi meninggalkan kita. Tahun-tahun yang membanggakan dan paling penting bagi sebuah rezim nasional sosialis. Kita telah melihat bahwa tahun-tahun itu berlalu dengan penuh kehormatan. Sejarah Eropa akan mengenangnya sebagai tahun-tahun milik Jerman. Kita menghormati pengorbanan-pengorbanan yang telah dilakukan oleh seluruh rakyat Jerman pada tahun-tahun belakangan ini. Beberapa orang akan memengaruhi yang lain. Kita telah melakukan apa yang kita bisa untuk dapat melihat bahwa penderitan yang selama ini kita rasakan telah dengan adil dibagikan. Peperangan ini melibatkan semua masyarakat. Ini adalah perang untuk mencapai eksistensi negara kita. Akan tetapi, hal ini belum dapat kita lihat dari semua medan peperangan. Walaupun demikian, tidak ada lagi yang meragukan hasutan-hasutan perang yang dilakukan London dan Paris untuk menahan jerman, untuk menghancurkan rakyatnya. Mereka telah mengakuinya dengan terus terang sekarang. Mereka tetap mempertahankan kemunafikan mereka tentang mengalahkan Hitlerisme, tetapi tidak untuk rakyat Jerman, hal itu hanya berlaku untuk orang-orang bodoh. Kita telah mengetahui apa yang mereka lakukan berdasarkan pengalaman dan anak yang pernah dikelabui sebelumnya akan merasa lebih waspada untuk yang kedua kalinya. Tidak seorang pun yang ada di Jerman yang akan mendengarkan mereka. Mereka ingin menyerang Fuhrer melalui Hitlerisme, menyerang Reich melalui Hitlerisme, dan menyerang rakyat melalui Reich. Semua yang dilakukan Fuhrer untuk menciptakan perdamaian tidak membuahkan hasil bagi mereka. Sebanyak 90 juta penduduk di dalam Pemerintahan Reich kini berhadapan dengan rencana brutal Inggris demi tujuan menguasai dunia. Mereka membenci rakyat kita karena kita layak untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, kita berani, industri kita besar, pekerja keras, dan pintar. Mereka membenci cara pandang kita, sosial politik kita, dan apa yang telah kita capai. Mereka harus memaksa kita untuk berjuang menghadapi kehidupan dan kematian. Kita akan mempertahankan diri kita sendiri. Semuanya telah jelas antara kita dengan musuh kita. Kita tahu apa yang sedang kita lakukan dan seluruh rakyat Jerman telah dipenuhi oleh keputusan yang bulat. Tidak ada perbandingan dengan apa yang terjadi pada Perang Dunia yang lalu. Jerman yang sekarang adalah Jerman yang secara ekonomi, politik, militer, dan spiritualitas siap untuk membalas serangan musuh.
Sulit bagi kita untuk memprediksi apa yang akan terjadi pada tahun baru mendatang. Semua itu adalah masa depan. Akan tetapi, satu hal yang pasti: tahun ini akan menjadi tahun yang teramat sulit dan kita harus siap menghadapinya. Kemenangan tidak akan jatuh ke tangan kita jika kita tidak berusaha untuk mendapatkannya, dan tidak hanya ada di garis terdepan, tetapi juga di rumah-rumah kita. Semua orang telah bekerja dengan keras untuk menggapai itu semua.
Oleh karena itu, pada saat-saat ini, kita mengucapkan selamat tinggal pada tahun-tahun yang di dalamnya kita sudah bekerja keras mencapai kehebatan dan kini kita akan memasuki tahun yang baru. Kita yang berada di sini menyapa garis-garis terdepan, menyapa tentara-tentara yang berada di bunker, di pangkalan udara, dan di angkatan laut. Negara ini dan wilayah-wilayahnya yang terdepan bersatu untuk menyapa Fuhrer. Semoga nasib baik tetap membuatnya sehat dan kuat; lalu kita akan melihat masa depan yang terjamin. Hari ini lebih dari siapa pun, ia adalah rakyat Jerman, nasib kita ada di tangannya, begitu pula dengan harapan-harapan kita di masa depan. Kita memiliki kehormatan atas segala pengorbanan besar yang rakyat kita lakukan. Pengorbanan-pengorbanan yang lalu dan yang akan kita hadapi nanti tidak akan membuat kita merasa menderita lagi. Kita berhutang pada Reich dan masa depannya.
Kita bangkitkan hati-hati kita untuk luar biasa berterima kasih kepada Tuhan, kita meminta maha perlindungannya untuk tahun-tahun mendatang. Jika kita ingin meminta berkat rahmat-Nya, kita harus bekerja keras dan berjuang, dan berkata seperti yang telah dikatakan oleh seorang jenderal Prusia, “Oh Tuhan, jika kau tidak mau membantu kami atau memilihkan apa yang terbaik untuk kami, setidaknya janganlah kau bantu musuh-musuh kami!”

Sejarah Operasi Barbarossa (22 Juni – 5 Desember 1941)

Image
Image
Image
Pengantar
Latar Belakang Penyerangan terhadap Soviet
Teori Lebensraum
Mengapa harus menyerang Soviet? Mengapa tidak menyerang Eropa Barat saja? Mengapa harus membuka pertempuran dua front sekaligus?
Sudah sejak lama Hitler begitu membenci Yahudi, termasuk di dalamnya Uni Soviet. Hitler menganggap bahwa Uni Soviet yang didirikan oleh kaum Bolshevik komunis merupakan bagian dari Yahudi. Bolshevik pun dipengaruhi dan diatur oleh kelompok-kelompok Yahudi. Tidak hanya dari segi ideologi, penyerangan terhadap Soviet juga dipengaruhi oleh kondisi geopolitik. Wilayah Soviet yang luas juga memiliki posisi strategis yang dipenuhi oleh sumber daya alam yang dibutuhkan oleh Jerman. Kondisi inilah yang dibutuhkan untuk memenuhi syarat lebensraum, cara pandang politik Hitler mengenai konsep tata ruang untuk hidup.  Di dalam Mein Kampf, ia menjelaskan dengan detail kepercayaannya bahwa rakyat Jerman membutuhkan ruang hidup ‘lebensraum’(tanah dan sumber dayanya) dan kedua hal ini bisa didapatkan di wilayah Eropa Timur. Terlebih lagi, bangsa-bangsa Eropa Timur yang sebagian besar adalah Slavia dianggap sebagai ras yang inferior. Kemudian, kependudukan terhadap wilayah-wilayah Eropa Timur juga akan memberikan surplus bahan pangan yang diperlukan rakyat dan tentara Jerman.
Konsep lebensraum sebenarnya telah muncul jauh sebelum Adolf Hitler dan nazi berkuasa. Konsep ini sudah terlihat sejak zaman pertengahan di wilayah Jerman dan dikenal dengan istilahostsiedlung. Terminologi lebensraum sudah dipraktikkan oleh Friedrich Ratzel pada tahun 1901 dan telah digunakan sebagai slogan Jerman dalam menyatukan wilayah-wilayahnya. Ratzel percaya akan pengaruh kondisi geografi dalam membangun masyarakat. Oleh karena itu ekspansi dibutuhkan untuk memenuhi ruang geografi ini. Konsep ini kemudian berkembang melalui Karl Haushofer dan Jenderal Friedrich von Bernhardi. Di dalam buku Germany and the Next Year yang ditulis oleh von Bernhardi pada tahun 1912, ia mengembangkan hipotesis dari teori Ratzel tersebut dan kemudian menjelaskan bahwa wilayah Eropa Timur  merupakan sumber lahan baru. Masih menurutnya, perang bukan merupakan kebutuhan biologi, melainkan upaya untuk mencapai konsep lebensraum. Namun, penjelajahan untuk mencapai lebensraumtidak hanya bermakna memecahkan masalah kondisi demografi, tetapi juga untuk menjaga agar Jerman tidak mengalami stagnasi dan degenerasi.
Wir Brauchen Soviet (We Need Soviet Union)
Pada permulaan tahun 1925, di dalam buku Mein Kampf, Hitler menyarankan penyerangan terhadap Soviet. Seperti yang telah dikemukakan oleh Ratzel dan von Bernhardi, Hitler mengemukakan bahwa Jerman membutuhkan ruang dan sumber daya alam dan hal itu akan didapat dari wilayah timur. Takdir Jerman adalah kembali ke wilayah timur sama seperti pada masa 600 tahun yang lalu. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa jika dominasi Yahudi di Soviet dihancurkan, akan hancurlah pula negara tersebut. Hitler pun mengatakan bahwa peperangan terhadap ide pan-Slavia tidak dapat dihindari dan jika Jerman menang melawan Rusia, jalan kemenangan di seluruh medan pertempuran akan terbuka bagi Jerman. Wilayah Soviet yang kaya akan minyak dibutuhkan untuk menghidupkan perlatan-peralatan tempur Jerman, penduduk-penduduk Slavia akan djadikan tenaga-tenaga kerja, dan wilayah-wilayahnya yang luas akan diubah menjadi ladang-ladang pertanian dan perkebunan untuk meningkatkan kebutuhan Jerman akan sumber daya pangan. Inilah pentingnya wilayah Soviet di mata Jerman.
Pakta Perdamaian Jerman-Soviet 23 Agustus 1939 (Pakta Molotov-Ribbentrop)
Mengapa Soviet dan Jerman dapat membuat kesepakatan nonagresi padahal kedua belah pihak memiliki sifat-sifat yang saling bertentangan. Untuk melihat hal tersebut, kita harus melihat jauh ke belakang.
Pakta Molotov-Ribbentrop adalah pakta nonagresi yang dilakukan oleh pihak pemerintah Jerman dan Soviet pada tanggal 23 Agustus 1939. Pakta ini dinamakan sesuai  dengan kedua orang yang menandatangani perjanjian tersebut, yaitu Vyacheslav Molotov sebagai Menlu Soviet dan Joachim von Ribbentrop sebagai Menlu Jerman.
Pakta ini dibuat untuk menjami keamanan Soviet-Jerman untuk tidak saling menyerang. Bagi Jerman, pakta ini hanya digunakan sementara waktu untuk menjamin wilayah timurnya dari agresi Soviet sementara Jerman akan disibukkan menyerang wilayah-wilayah barat seperti Belanda, Belgia, Denmark, dan Perancis.
Beberapa dokumen mengatakan bahwa di dalam pakta kesepakatan ini terdapat beberapa protokol rahasia mengenai pembagian wilayah Rumania, Polandia, Lituania, Estonia, dan Finlandia kepada Soviet dan Jerman untuk mengantisipasi ancaman keamanan dari negara-negara tersebut. Pada saat penyerangan terhadap Polandia pada tanggal 1 September, kedua negara ini membagi-bagi wilayah Polandia masuk ke dalam jajahan mereka. Beberapa bagian timur Finlandia masuk ke dalam teritori Soviet.
Latar belakang munculnya pakta ini adalah adanya trauma kedua belah pihak terhadap peristiwa perang dunia pertama. Pada masa PD I, Bolshevik harus berjuang mempertahankan eksistensinya. Lenin dengan terpaksa harus mengakui kedaulatan negara-negara, seperti Finlandia, Estonia, Latvia, Lituania, dan Polandia. Sementara itu, dalam menghadapi Jerman yang kekuatan tempurnya semakin maju, Lenin dan Trotsky terpaksa harus mengakui perjanjian Brest-Litovsk yang membuat sebagian besar wilayah Soviet masuk ke dalam teritori Jerman.
Pada tanggal 16 April 1922, Jerman dan Soviet mengadakan perjanjian Rapallo untuk memberikan pernyataan resmi terkait masalah-masalah perbatasan dan keuangan dalam hal penyelesaian masalah dari perjanjian sebelumnya, yaitu Perjanjian Brest-Litovsk. Di dalam perjanjian baru ini, kedua negara sepakat untuk menormalisasi hubungan diplomasi mereka dan saling bekerja sama meningkatkan hubungan timbal balik yang baik. Kerja sama kemudian dilanjutkan berdasarkan kesepakatan yang terjadi di Berlin pada tahun 1926 untuk tidak saling menyerang dan meningkatkan hubungan kerja sama perdagangan selepas PD I.
Image
(Perjanjian Rapallo: dari kiri, Kanselir Jerman, Joseph Wirth bersama dengan Krassin, Georgi Chicherin dan Joffe dari delegasi Rusia)
Pada permulaan tahun 1930, kebangkitan Partai Nazi menimbulkan ketegangan antara Jerman, Soviet, dan negara-negara lain yang beretnis Slavia akibat untermensch, ideologi rasis Nazi, yang menyatakan bahwa etnis-etnis Slavia merupakan etnis kelas inferior di bawah Jerman. Terlebih lagi ideologi anti-Semit yang dipegang Nazi telah mengasosiasikan etnis Yahudi dengan paham komunis dan sistem keuangan kapitalis.
Berdasarkan hal tersebut, antara bulan April dan Juli 1939, Jerman dan Soviet secara resmi menyatakan akan membuka negosiasi-negosiasi politik yang baru walaupun pada kenyataannya tidak terjadi perjanjian apa pun di antara bulan-bulan tersebut. Pada dasarnya, perjanjian-perjanjian yang akan dilakukan terkait dengan negosiasi ekonomi antar kedua negara mengingat hubungan-hubungan militer dan diplomasi tidak berjalan lancar pada pertengahan tahun 1930.
Pada bulan Mei, Stalin mencopot jabatan Maxim Litvinov sebagai menteri luar negeri karena dianggap terlalu probarat dan berdarah Yahudi dan digantikan oleh Vyacheslav Molotov yang membuat Soviet menjadi lebih leluasa dalam bernegosiasi dengan pihak-pihak lain.
Pada akhir bulan Juli dan awal bulan Agustus 1939, kedua belah pihak, Jerman-Soviet, secara resmi sepakat untuk membahas rencana-rencana ekonomi secara detail dan secara lebih spesifik akan membahas potensi perjanjian-perjanjian politik mereka.
Pada awal bulan Agustus, Soviet dan Jerman bekerja bersama-sama dalam detail rencana terakhir mereka terkait masalah ekonomi dan mulai mendiskusikan persekutuan politik. Satu sama lain saling menjelaskan alasan kebijakan luar negeri mereka dan menemukan kesamaan bahwa keduanya  sama-sama antikapitalistik.
Namun, pada saat yang bersamaan, negosiator dari Inggris, Perancis, dan Soviet berada di Moskow pada bulan Agustus 1939. Pertemuan tripartit ini diadakan untuk membahas persoalan militer terkait dugaan serangan Jerman ke Polandia. Dalam pertemuan itu Rusia bersikukuh, jika Jerman menyerang Polandia, Rusia meminta agar pasukannya diizinkan masuk ke dalam teritori Polandia. Menteri Luar Negeri Polandia, Jozef Beck, menolak permintaan itu. Ia mengatakan kepada Inggris dan Perancis mengenai kekhawatirannya. Jika Rusia diiznkan memasuki wilayah Polandia, ia khawatir tentara merah akan selamanya menduduki Polandia. Penolakan ini diterima oleh Inggris dan Perancis dan meminta Rusia untuk tidak mencampuri urusan Polandia. Dengan demikian perizinan Rusia untuk memasuki Polandia ditolak. Sebaliknya Rusia beranggapan bahwa Jerman tidak akan menolak Rusia mengenai keinginannya tersebut. Hal ini terbukti. Pada tanggal 19 Agustus 1939, perjanjian telah disepakati antara Jerman dan Soviet dan pada hari yang sama Stalin juga menerima jaminan bahwa Jerman akan menyetujui protokol-protokol rahasia yang ditawarkan dalam perjanjian tersebut. Protokol rahasia tersebut menyatakan bahwa setengah dari wilayah Polandia, yaitu sebelah timur yang dibatasi Sungai Vistula, Latvia, Estonia, Finlandia, dan Besarabia harus masuk ke dalam wilayah Soviet. Jika protokol rahasia ini disepakati, Soviet akan siap menandatangani perjanjian. Jerman sepakat dan Ribbentrop  datang menemui Stalin pada tanggal 23 Agustus untuk ikut serta menandatangani perjanjian yang akan berlaku hingga sepuluh tahun ke depan.
Benarlah apa yang dikatakan Goebbels di dalam pidatonya pada permulaan tahun baru 1940.Rusia begitu gencar dan aktif melobi kedua belah pihak, baik kepada pihak axis maupun pihak sekutu. Keinginannya hanyalah satu: mendapatkan klaim kekuasan atas wilayah-wilayah barat balkan. Langkah pertama Rusia adalah melobi pihak sekutu untuk diiznkan memasuki Polandia jika sewaktu-waktu Jerman menyerang Polandia karena Jika Rusia diizinkan memasukinya, hal ini akan memperlancar tujuannya untuk mengklaim wilayah barat balkan. Polandia tampaknya sangat memahami niat terselubung ini dan menolak hal tersebut di hadapan Inggris dan Perancis sehingga membuat perjanjian tripartit batal. Mudah bagi Rusia. Jika langkah pertama untuk memasuki Polandia gagal, mengapa ia tidak berpaling ke Jerman dan memprovokasi Jerman untuk menyerang Polandia. Bagi Rusia hal ini akan tampak lebih mudah dan tepat sasaran mengingat kepentingan Jerman atas masalah Danzig di Polandia begitu besar. Hal-hal ini semakin memperjelas keadaan bahwa penyerangan Polandia pada tanggal 1 September 1939 tidaklah semata-semata urusan Jerman atau bagaimana jerman memulai PD II, tetapi juga terdapat niat Rusia dibalik itu semua.
(Pidato Goebbels dapat dibaca di sini)
Sesuai dengan apa yang diprediksi oleh banyak pihak, walaupun berlaku hingga sepuluh tahun ke depan, perjanjian ini takkan bertahan lama. Kedua belah pihak selalu menaruh curiga satu sama lain. Antara tahun 1940 – 1941, kedua belah pihak mulai berbenturan di Eropa Timur sehingga memunculkan konflik.
Pada pertengahan bulan Juni 1940, tentara NKVD menyerbu perbatasan Lituania, Estonia, dan Latvia. Sebanyak 34.250 penduduk Latvia, 75.000 penduduk Lituania, dan hampir dari 60.000 penduduk Estonia dideportasi atau dibunuh. Kejadian ini terus berlanjut hingga Rusia menganeksasi seluruh wilayah Lituania, termasuk area Scheschupe yang seharusnya berdasarkan perjanjian akan diserahkan kepada Jerman. Akhirnya, pada tanggal 26 Juni, empat hari setelah terjadi pernyataan gencatan senjata oleh Perancis terhadap Jerman, Rusia memberikan ultimatum meminta wilayah Besarabia dan termasuk wilayah utara Bukovina yang merupakan bagian dari Rumania. Hal ini sangat mengancam Jerman mengingat wilayah-wilayah tersebut begitu strategis, baik dari masalah geopolitik maupun ketergantungan Jerman akan minyak sebagian besar berasal dari wilayah tersebut.
Jerman harus bertindak. Ancaman harus dihentikan. Pada musim panas tahun 1940, Hitler secara rahasia mendiskusikan rencananya di depan para jenderalnya untuk menginvasi Rusia dan pada akhir tahun 1940-an telah memberikan perintah untuk menyusun rencana penyerangan.
 Image
(dari kiri: Menlu Rusia, Molotov, berjabat tangan dengan Menlu Jerman, Ribbentrop)
 Image
(Joseph Stalin dan Joachim von Ribbentrop)
 Image
(Molotov menandatangani perjanjian, tepat di belakangnya Joachim von Ribbentrop dan Stalin)
Image
(Sekarang Giliran Ribbentrop menandatangani perjanjian)
The Great Purge (1937 – 1938)
Simbol kepemimpinan Stalin: Paranoid dan Kejam
Selama kariernya sebagai pimpinan tertinggi Uni Soviet, Stalin selalu percaya bahwa ia memiliki banyak musuh di segala sudut kehidupannya. Ia tampak seperti paranoid dan seperti apa yang dikatakan oleh seorang sejarawan, Robert Service, Stalin memiliki psikopatalogic yang disebut sosiopatic personality disorder (gangguan kepribadian sosiopatik). Stalin menganggap bahwa plot dan konspirasi selalu mengancam kehidupan politiknya. Dia menganggap bahwa semua masalah-masalahnya berasal dari beberapa kelompok yang mencoba untuk menyakitinya dan ia begitu membenci, mendendam, dan membawa keluhan selama bertahun-tahun.
Sebagai seorang pengagum seumur hidup Ivan the terrible, Stalin mengadopsi kebijakan Ivan yang menghukum tidak hanya orang-orang yang dianggap musuh-musuhnya, tetapi juga keluarga besar musuh-musuhnya.
Pada masa mudanya, Stalin begitu terpengaruh oleh Vladimir Lenin dan Partai Bolshevik yang selalu mengategorikan beberapa orang sebagai anti-Soviet atau musuh masyarakat (enemies of the people). Pendiskreditan ini menimbulkan kondisi yang mengizinkan orang-orang untuk dibunuh atau dilenyapkan jika dianggap sebagai musuh. Bagi Bolshevik, kekejaman, teror, dan membunuh sepertinya merupakan metode yang sudah dianggap lazim. Bahkan, Stalin tanpa ragu dapat memusnahkan satu desa hanya untuk menciptakan ketakutan di benak masyarakat. Salah satu kunci keberhasilan kebrutalan Stalin adalah ia memiliki sebuah organisasi yang efisien dalam melaksanakan tugas yang diperintahkan: NKVD Narodnyy Komissariat Vnutrennikh Del ‘The People’s Commissariat for Internal Affairs ‘
Pada musim panas tahun 1932, Stalin menjadi begitu khawatir terhadap oposisi politiknya yang terus berkembang. Hal ini disebabkan oleh beberapa anggota partai yang secara terang-terangan mengkritisi segala kebijakan Stalin dan menyerukan memasukkan kembali nama Leon Trostky ke dalam partai. Saat isu ini didiskusikan di dalam Politbiro, Stalin memerintahkan bahwa para pengkritik harus ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Sergei Kirov yang pada saat itu setia terhadap Stalin justru menentang kebijakan tersebut. Ketika voting dilakukan, mayoritas suara Politbiro mendukung pernyataan Kirov dalam menentang Stalin.
Pada musim semi tahun 1934, Kirov mencoba mengadakan kebijakan rekonsiliasi. Ia berpendapat bahwa orang-orang yang ditahan karena menentang pemerintahan harus dibebaskan. Hal ini semakin membuat Stalin menjadi paranoid dan merasa dirinya tidak lagi diakui di dalam Politbiro. Merasa posisinya terancam akibat ulah Kirov, Stalin menjadi waspada. Dengan berbaik hati kepada Kirov karena Stalin sudah menganggap Kirov sebagai anaknya sendiri dan agar loyalitas Kirov tetap terjaga, Stalin meminta Kirov untuk meninggalkan Leningrad dan bekerja di Moskow. Hal ini dilakukan oleh Stalin agar Kirov lebih mudah diawasi. Namun, Kirov menolak dan pada tanggal 1 September 1934, Kirov dibunuh oleh seorang anggota muda partai yang bernama Leonid Nikolayev. Dalam peristiwa ini, Stalin memberikan pernyataan resmi bahwa Kirov adalah bagian dari konspirasi besar yang diatur oleh Leon Trotsky untuk melawan pemerintahan. Hal ini terus berlanjut pada penangkapan sejumlah aktivis yang mengkritisi kebijakan Stalin.
Pada bulan September 1936, Nikolai Yezof, kepala dinas NKVD memerintahkan penangkapan terhadap pemimpin-pemimpin politik yang dianggap bertentangan dengan pemerintah dan pada bulan Januari 1937, Karl Radek dan enam belas anggota ketua Partai Komunis dijatuhi hukuman karena dianggap bekerja sama dengan politik sayap kanan Trotsky untuk menggulingkan Pemerintahan Soviet.
Di Jerman, Hitler selalu mengawasi perkembangan situasi di Rusia. Apa yang dilakukan oleh Stalin sebenarnya jelas dapat memperlemah kekuatan stabilitas politik dan militer Rusia dan Stalin yang terlalu diancam oleh rasa takutnya yang berlebihan mengorbankan kedua hal tersebut. Oleh karena itu, Hitler ingin sekali membantu Stalin memenuhi obsesinya dalam melenyapkan musuh-musuh politiknya.  Kesempatan ini akan tiba sebentar lagi melalui tangan Reinhard Heydrich, Kepala Staf German Sicherheitsdienst(SD), sebuah departemen intelijen SS di bawah pemerintahan Nazi.
Pada tanggal 22 mei 1937, Jenderal Mikhail Tuchakevsky ditangkap dan diadili bersama dengan tujuh komandan Red Army yang lain atas tuduhan konspirasi militer dan kegiatan mata-mata untuk intelijen Nazi. Informasi ini didapatkan berdasarkan pernyataan yang dikeluarkan oleh beberapa orang yang ditangkap.
Sebelum tahun 1990, sebagian besar sejarawan menganggap bahwa Abwehr-lah yang menyebarkan desas-desus di sekililing Stalin dan membuat dokumen-dokumen palsu bahwa salah seorang jenderalnya, Mikhail Tuchakevsky, berkomplot dengan Trotsky dan menjadi mata-mata intelijen Nazi. Bagaimanapun, setelah arsip-arsip Soviet dapat dibuka untuk bahan penelitian, terungkap bahwa Stalinlah yang mengarang-ngarang cerita tersebut untuk dapat melenyapkan jenderal-jenderal yang dianggapnya menentang dengan cara yang dapat dibenarkan oleh semua pihak. Untuk menimbulkan kesan bahwa cerita tersebut adalah fakta, Stalin memerintahkan salah seorang agen NKVD yang bernama Nikolai Skoblin untuk datang menemui Heydrich untuk memintanya mengarang informasi tentang plot yang dilakukan oleh Tuchakevsky dan beberapa jenderal yang lain. Ketika melihat kesempatan untuk menyerang dua pihak sekaligus, yaitu pihak Soviet dan musuh abadi Hitler, Admiral Canaris, yang pada saat itu menjabat sebagai Kepala Abwehr,  Heydrich atas persetujuan Hitler langsung bertindak melakukan pembuktian atas informasi tersebut. Dokumen-dokumen palsu atas nama Abwehr kemudian dibuat atas pesanan Stalin. Beberapa dari dokumen-dokumen tersebut menyebutkan bahwa setelah Perjanjian Rappolo, banyak petinggi-petinggi Red Army telah menghubungi kantor Wermacht. Dokumen-dokumen ini diserahkan ke Soviet melalui Presiden Cekoslowakia, Benes, dan ke beberapa partai netral. Isi dokumen-dokumen ini juga menyebutkan adanya hubungan antara Jenderal Tuchakevsky dan pemimpin-pemimpin tertinggi Nazi. Akibatnya pada tanggal 22 Mei 1937, Tuchakevsky dijatuhi hukuman dan ditembak mati. Pengadilannya dibuat rahasia dan tidak diumumkan kepada publik. Bagaimanapun juga, penjatuhan hukuman mati Jenderal Tuchakevsky dan tujuh komandan Red Army lainya hanya merupakan bagian awal dari apa yang kita kenal dengan sebutan The Great Purge, atau dalam bahasa Rusia disebut Yezhovshchina atau rezim Yezhov. Setelah peristiwa ini, terjadi pembersihan besar-besaran oleh Stalin. Begitu banyak komandan dan perwira Red Army yang berkompeten dan berpengalaman dilenyapkan. Walaupun peranan Jerman dalam masalah ini begitu kecil, bagi Rusia hal ini berdampak sangat hebat, yaitu militer Rusia menjadi lemah. Hitler meneguk kenikmatan ini kala ia menjajal kemampuan Soviet dalam Operasi Barbarossa. The Great Purge adalah faktor utama mengapa Soviet tidak mampu menunjukkan kehebatannya pada masa-masa awal Operasi Barbarossa.
Image
(Salah satu episod The Great Purge)
Invasi Italia terhadap Yunani
Bukti Kebodohan dan Keegoisan Mussolini
Di musim panas 1940, saat Jerman krisis bahan baku dan potensi benturan dengan Uni Soviet atas wilayah di Balkan, invasi Uni Soviet tampak solusi satu-satunya. Meskipun tidak ada rencana lagi, pada bulan Juni, Hitler mengatakan kepada salah seorang jendral bahwa kemenangan di Eropa Barat akhirnya membebaskan diri untuk mendapatkan tugas baru yang penting: melawan Bolshevisme walaupun Hilter mengatakan bahwa pendudukan Rusia Barat akan menciptakan “lebih banyak pengeluaran daripada mendapat bantuan untuk situasi ekonomi Jerman.” Hitler mengantisipasi manfaat tambahan dari rencana ini, yaitu
  • Ketika Uni Soviet dikalahkan, kekurangan buruh dalam industri Jerman bisa dibantu oleh demobilisasi tentara.
  • Ukraina akan menjadi sumber pertanian.
  • Masyarakat Uni Soviet dapat dijadikan sumber pekerja dan dapat posisi geostrategis jerman dapat ditingkatkan.
  • Kekalahan Uni Soviet akan semakin mengisolasi Sekutu, terutama Inggris.
  • Perekonomian Jerman membutuhkan lebih banyak minyak dan pengendalian tambang minyak akan mudah tercapai; seperti perkataan Albert Speer, Menteri Jerman Produksi Peralatan Perang, dalam sebuah wawancara, “kebutuhan minyak jelas motif utama” dalam keputusan untuk menyerbu.
 Image
Weisung Nr. 21: Operasi Barbarossa
Pada tanggal 5 Desember, Hitler menerima rencana militer untuk invasi dan menyetujuinya dengan mulai dijadwalkan pada Mei 1941. Pada tanggal 18 Desember 1940, Hitler menandatangani Directive Perang Nomor 21 kepada Komando Tinggi Jerman untuk operasi dengan nama sandi “Operasi Barbarossa” yang menyatakan, “Wehrmacht Jerman harus siap untuk menghancurkan Rusia dalam kampanye yang cepat.” Operasi ini diberi nama sesuai dengan nama Kaisar Frederick Barbarossa dari Kekaisaran Romawi Suci, seorang pemimpin dari Perang Salib Ketiga pada abad ke-12. Invasi ini kemudian ditetapkan mulai tanggal 15 Mei 1941.
Banyak pengamat sejarah menyatakan bahwa keputusan Hitler ini gegabah dan terlalu overconfident karena tidak belajar dari sejarah kekalahan Napoleon dalam menyerang Rusia. Pernyataan Hitler bahwa peperangan ini hanya akan memakan waktu  delapan minggu pun dianggap omong besar. Kolonel Jenderal Guderian sebagai jago tank Jerman terkejut dan tercengang. Eropa Barat memang telah takluk, tetapi Inggris belum sempat dikalahkan. Jika operasi Barbarossa dijalalankan, Jerman akan membuka dua front peperangan sekaligus, suatu hal yang sangat riskan dan diketahui oleh semua kalangan bahkan bagi orang awam sekalipun. Marsekal Gerard von Rundstedt yang pernah berperang di Rusia dalam PD I mengatakan dengan pesimis bahwa akhir dari semua ini pastilah bukanhappy ending.
Sebenarnya, dalam hal ini jika kita lihat dari kondisi yang ada, Hitler tidaklah bermulut besar. Ia sadar akan rencananya. Prediksinya bahwa Inggris tidak akan menyerang ternyata benar karena Inggris belum mampu melancarkan serangan hingga satu atau dua tahun ke depan. Artinya, wilayah Eropa barat sebenarnya telah aman. Mengenai lama pelaksanaan operasi, Hitler pun tak asal berbicara. Sesungguhnya waktu delapan minggu cukup untuk menggulung Soviet atau setidaknya mampu diselesaikan sebelum musim dingin pada bulan November tiba. Namun, takdir berkata lain. Sekutu Hitler, Signor Mussolini, tanpa berkoordinasi dengan Hitler, telah membuka medan perang baru, yaitu invasi Italia ke Yunani.  Celakanya, Mussolini dipermalukan dalam pertempuran di Yunani ini. Dengan berang dan murka, Hitler harus membantu Mussolini, bukan sebagai kawan tetapi memang kepentingan Jerman terhadap Yunani untuk mengamankan sumber minyaknya di Ploesti, Rumania, sehingga rencana penyerangan ke Rusia pun tertunda.
Pada tanggal 28 Oktober 1940, Italia bersama dengan sekutunya, Albania, menyerang Yunani dengan 500 ribu pasukan. Penyerangan in dilakukan Mussolini sebagai upaya untuk menstabilkan kekuatan antara dia dengan Hitler, suatu hal yang sebenarnya tidak penting untuk dilakukan dalam kebijakan strategi poros axis. Namun, Mussolini memiliki pandangan yang berbeda. Mussolini menganggap dirinya adalah senior di antara tokoh-tokoh fasis. Ia pun sudah terkenal dalam dunia politik jauh sebelum Hitler. Jika beberapa orang sejarawan menganggap Stalin memiliki gangguan kepribadian sosipatik yang membuatnya selalu paranoid, Mussolini memiliki sikap self lack confidence,adanya rasa rendah diri sehingga senantiasa berdaya upaya untuk menunjukkan dirinya lebih superior dibandingkan yang lain. Ketika Hitler muncul dalam waktu singkat menaungi Mussolini, kenyataan ini menggoyangkan pribadi Mussolini yang labil. Ia sering berkata kepada Hitler bahwa ia mempunyai pengalaman dalam bidang politik selama 40 tahun. Ketika Hitler mendulang sukses pada tahun 40-an dengan menyerahnya Perancis hanya dalam waktu beberapa minggu, muncul perasaan pahit dalam diri Mussolini. Apalagi Mussolini tak mempunyai bagian dalam mencapai kemenangan itu. Mussolini iri dan ingin mendapatkan hal yang sama. Itulah sebabnya ia menyerang Yunani dan ia ingin Hitler membaca dari surat kabar bahwa sekutunya telah menduduki tanah Yunani.
Rencana ini sebenarnya ditolak mentah-mentah oleh Staf angkatan perang Italia. Marsekal Badoglio menyatakan bahwa serangan ini membutuhkan 20 divisi, sedangkan di Albania yang digunakan sebagai pangkalan hanya memiliki sembilan divisi Italia.
Sebelum penyerangan, Mussolini melalui Duta Besarnya di Athena, Emmanuele Grazi, memberikan ultimatum kepada Perdana Menteri Yunani, Ioannis Metaxas, agar memberi akses bagi Italia terhadap wilayah penting Yunani. Metaxas menolak ultimatum tersebut dan memutuskan untuk berperang melawan Italia.
Angkatan perang Yunani pada saat itu hanya berjumlah tiga divisi, sedikit tank dan minim angkatan udara. Walaupun demikian, Yunani ternyata dapat memberikan perlawanan yang luar biasa sengit dan membuat Mussolini ketar-ketir. Keberuntungan Yunani terletak pada kondisi geografisnya yang berbentuk pegunungan sehingga membuat divisi lapis baja Mussolini sulit melakukan manuver dan hanya menjadi sitting duck bagi tentara Yunani. Dengan cepat, pasukan Italia dipukul mundur. Pada tanggal 8 November, sebelas hari setelah Mussolini melaksanakan agresinya, ofensif Italia hancur berantakan.
Pasukan Yunani, setelah mendapatkan bala bantuan Angkatan Udara Inggris, tak menunggu dan membiarkan Mussolini menyusun tenaganya kembali. Pada tanggal 14 November 1941, Yunani menyerang di seluruh Front dan berhasil memukul mundur tentara Italia keluar dari perbatasan bahkan sampai membebaskan pula dua kota penting di Albania dari penjajahan Italia.
Apa yang dilakukan Mussolini tanpa berkoordinasi sebelumnya dengan Hitler merupakan blundernya yang paling fatal dalam sejarah Perang Dunia II. Blunder ini berakibat pada beberapa hal berikut.
  1. Sebelum bertempur dengan Italia, Yunani, walaupun termasuk negara netral memiliki perjanjian strategis dengan Jerman. Ketika Mussolini membuka pertempuran dengan Yunani, batallah perjanjian tersebut.
  2. Inggris memiliki alasan untuk terlibat di sana dan dapat menjadikan Yunani sebagai pangkalan udara untuk mengebom sumber minyak Jerman di Ploesti, Rumania.
  3. Akibat ulah Mussolini, Hitler harus turun tangan. Rencana penyerangan ke Rusia pun tertunda dan hal inilah yang akan berakibat fatal pada operasi-operasi Jerman di Eropa Timur.
  4. Penundaaan rencana Operasi Barbarossa mengakibatkan Jerman harus membuka dua front pertempuran sekaligus dan divisi-divisi tempur yang seharusnya dapat digunakan di Rusia harus dibagi-bagi ke dalam beberapa front pertempuran yang berbeda.
Operasi Barbarossa
Rencana yang semula akan dilaksanakan pada tanggal 15 Mei 1941 kini harus diundur dan dilaksanakan pada tanggal 22 Juni 1941 akibat blunder Mussolini yang sebelumnya telah kita bahas.
Hitler begitu pandai menyimpan rahasia sehingga Stalin, walaupun tahu bahwa suatu saat Jerman akan menyerang, tidak tahu pasti kapan tanggal pelaksanaan penyerangan tersebut. Sebenarnya jika Stalin mau berlaku bijaksana dan mendengarkan saran bawahannya, ia akan tahu kapan Hitler akan menyerang karena pada tanggal 14 Juni, seorang agen rahasia Rusia, Dr. Richard Sorge, telah memberikan peringatan dari Tokyo. Isi peringatan itu berbunyi, “ Perang akan dimulai tanggal 22 Juni. Sungguh ini adalah suatu informasi yang luar biasa bagi kepentingan Rusia. Namun, Stalin lebih memilih untuk mengabaikan peringatan ini karena ia telah meyakinkan kepada semua pihak bahwa perang tidak akan mungkin terjadi sampai tahun 1942. Lebih lanjut Stalin berkata, “Semua isu perang ini hanyalah propaganda yang sangat lucu yang dikirimkan oleh musuh-musuh Soviet.” Pernyataan ini kemudian menyurutkan ketegangan yang terjadi di dalam setiap lini depan pasukan Rusia dan membuat mereka tidak waspada.
Nyatanya,
Operasi Barbarossa dimulai pada pukul 03.30 pagi dan dilakukan dengan menyerang tiga arah yang berbeda. Terobosan ini dilakukan oleh tiga grup tentara, masing-masing Utara, Tengah dan Selatan. Grup Utara pimpinan Generalfeldmarschall Wilhelm Ritter von Leeb menyerbu dari Prusia Timur dengan sasaran Leningrad (St. Petersburg). Grup Tengah di bawah komando Generalfeldmarschall Fedor von Bock dari Polandia melalui hamparan rawa-rawa luas Pripyat menuju Smolensk untuk kemudian ke Moskow, sedangkan grup Selatan yang dipimpin oleh Generalfeldmarschall Gerd von Rundstedt bergerak ke arah Kiev dengan tujuan menguasai wilayah gudang pangan (gandum) di Ukraina serta sumber minyak bumi di Kaukasus. Kekuatan Tentara Jerman pada saat itu terdiri atas Angkatan darat yang memiliki pasukan antara 8 – 10 juta personel tergabung dalam 250 divisi, 30.000 tank dan 16.000 pesawat terbang.
Serangan dilakukan sepanjang perbatasan yang ratusan mil lebarnya dengan strategi kolone yang paralel, persis seperti yang telah dilaksanakan di Perancis, Mei 1940. Strategi seperti ini adalah stratgi yang paling baik karena didasarkan atas alasan luasnya medan dan memungkinkan penyerang melakukan tindakan memotong dan mengepung musuh atau yang kita kenal dengan sebutan pincer movement.
Inilah tujuan Hitler, yaitu mengurung dan mengepung musuh. Sebelum tentara Rusia yang menjaga perbatasannya sempat mengundurkan diri, mereka sudah harus dikurung dan dihancurkan.
Babak pertama Operasi Barbarossa berjalan lancar. Pemimpin-pemimpin Rusia telah mencatat peningkatan deploy pasukan Jerman sepanjang perbatasan barat, tetapi belum dapat memastikan hari H invasi. Informasi telah dikumpulkan komandan-komandan Rusia, seperti Timoshenko dan Zhukov yang kemudian memberikan perintah siaga pada tanggal 21 Juni, itu pun hanya sebagian unit. Pada hari pertama, angkatan udara Rusia telah kehilangan 1200 pesawat tempurnya. Komandan Angkatan Laut, Admiral Kuznetzov, berlari dari kantor staf jenderal menuju mabes untuk memberi sinyal siaga penuh ke seluruh angkatan laut. Namun, komunikasi di pihak Rusia lemah. Radio sangat sedikit sehingga komunikasi bergantung pada telegraf dan jaringan telepon yang sudah dirusak atau dihancurkan oleh Jerman. Reaksi berjalan lambat. Sebagian besar unit-unit terdepan tidak menerima perintah sama sekali, sisanya menerima perintah yang sudah kadaluarsa.
Sementara itu, Grup Tengah Jerman yang terdiri atas dua kelompok Panzer (ke-2 dan ke-3) bergulir ke timur dari kedua sisi Brest-Litovsk dan bertemu dengan pasukan ke-2, ke-4, dan ke-9 di depan Minsk dan melakukan gerakan menjepit.  Minsk jatuh. Gerakan pincer movement yang dilakukan berhasil menawan lebih dari ratusan ribu tentara Rusia. Dalam pincer movement itu turut bergerak divisi-divisi berlapis baja yang dipimpin oleh Jenderal Guderian dan Jenderal Hoth. Akan tetapi, pada saat-saat pertama itu pula tampak jelas bahwa meskipun mereka sudah dikepung, sikap pasukan Rusia berbeda sekali bila dibandingkan dengan pasukan Inggris-Perancis pada saat di Dunkirk. Tentara Rusia terus bertahan dan bertempur. Mengapa hal yang demikian berbeda bisa terjadi? Kita tak dapat langsung menyimpulkan bahwa tentara Inggris-Perancis memiliki mental yang lebih lemah dibandingkan dengan tentara Rusia yang bermental baja karena hal ini tak harus selalu terkait dengan kualitas mental setiap prajurit.
Sun Tzu, penulis Art of War, telah menjelaskan mengapa dua kondisi pengepungan tersebut berbeda. Menurut Sun Tzu, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh penyerang ketika melakukan pengepungan. Yang pertama adalah pengepungan harus dilakukan secepat kilat seperti angin. Yang kedua adalah pengepungan tidak boleh dilakukan secara merapat, dalam artian berikan satu ruang kosong bagi musuh untuk dapat melarikan diri. Hal ini akan memberikan harapan kepada musuh untuk selamat sehingga mereka lebih senang memikirkan bagaimana caranya untuk pergi meloloskan diri dibandingkan harus berjuang sampai mati. Inilah yang terjadi. Dalam peristiwa Dunkirk, kondisi medan pertempuran memberikan ruang kosong semacam itu: wilayah barat Perancis, Dunkirk, adalah salah satu wilayah pantai yang menghubungkan Perancis dengan Inggris melalui Selat Channel. Harapan inilah yang membuat tentara Inggris-Perancis lebih memilih mengundurkan diri daripada harus melawan balik, sedangkan situasi yang sangat berbeda terjadi di Rusia. Jerman melakukan pengepungan tanpa memberikan ruang untuk meloloskan diri. Sekalipun memang terdapat ruang untuk meloloskan diri dari pengepungan, tentara Rusia tidak diizinkan oleh Stalin untuk mundur. Jika terdapat satu tentara yang mundur, ia akan langsung dianggap desertir dan akan ditembak mati oleh anggota-anggota NKVD. Jadi, tidak ada satu ruang pun bagi tentara Rusia untuk mengundurkan diri dari medan pertempuran sehingga hanya akan ada dua pilihan bagi mereka: Bertempur atau mati. Menyerah pun bukan pilihan karena mereka sadar bahwa menyerah kepada Jerman hanya akan menawarkan diri mereka secara sukarela ke kamp-kamp konsentrasi atau mengikhlaskan diri untuk dieksekusi mati.
Kembali ke medan pertempuran, tentara Jerman telah mencapai Sungai Berezina, ini artinya mereka sudah sejauh 650 km dari garis awal. Pada tanggal 11 Juli Guderian telah menyeberangi Sungai Dnieper dan Jenderal Hoth melintasi sungai Dvina. Target berikutnya adalah Smolensk untuk membuka pintu masuk ke Ibu Kota Rusia, Moskow.
Awal Operasi Barbarossa yang gilang-gemilang menimbulkan rasa optimis di benak Hitler. Smolensk sudah berhasil direbut pada tanggal 16 Juli. Dengan direbutnya Smolensk dan majunya Grup Tengah dan Utara ke arah Sungai Luga, kedua grup tersebut telah mencapai tujuan besar pertama mereka: menyeberang dan mempertahankan jembatan darat antara Dvina dan Dnieper. Jalur ke Moskow yang kini tinggal 400 km jauhnya telah terbuka lebar. Para Jenderal Jerman, seperti Halder, Guderian, dan von Kluge hendak bersiap menyerbu terus ke Moskow, tetapi ternyata Hitler menghendaki arah lain: Ukraina. Hitler memerintahkan Grup Utara dan Tengah untuk membantu kemajuan tentara Grup Selatan yang mengalami hambatan menguasai Ukraina. Hanya satu koridor menuju Kiev yang berhasil diamankan pada pertengahan Juli.
Ukraina Harus Ditaklukkan
Blunder Hitler setelah Dunkirk
Bagi Hitler, Ukraina merupakan gudang gandum Rusia yang subur yang jika direbut dapat membantu tenaga perang Jerman. Dengan demikian, Hitler memandang Ukraina melalui pertimbangan ekonomi bukan militer. Ini adalah blunder Hitler yang sama seperti yang terjadi di Dunkirk. Menurut jenderal-jenderal yang lain, Ukraina harus dikesampingkan. Leningrad dan Moskowlah yg harus terlebih dahulu diserang, apalagi Moskow adalah daerah pusat indusri Rusia dan jalan ke sana sudah terbuka lebar. Segala kekuatan seharusnya dipusatkan pada Grup Tentara Utara pimpinan Leeb dan Grup Tentara Tengah pimpinan Bock dan Leningrad beserta Moskow akan bisa segera dikuasai untuk memastikan kemenangan operasi ini. Perbedaan pandangan ini menimbulkan debat yang berlarut-larut padahal serangan bisa segera dilaksanakan ke arah Leningrad dan Moskow setelah Smolensk jatuh pada tanggal 16 juli. Namun, perdebatan yang memakan waktu beberapa minggu sampai permulaan Agustus telah menghilangkan waktu yang sangat berharga. Akhirnya, Moskow ditinggalkan dan semua kekuatan dipusatkan untuk merebut Kiev di Ukraina. Sejarah Dunkirk terulang dengan konsekuensi yang lebih fatal.
Operasi Typhoon
Pada tanggal 25 Agustus 1941, Guderian memberi perintah atas nama Hitler untuk menyerang Kiev. Waktu sudah bergulir delapan minggu, tetapi Rusia belum bertekuk lutut. Jeda waktu setelah Smolensk jatuh hingga penyerangan dilakukan lagi dengan target operasi yang berbeda membuat operasi ini tidak dapat diselesaikan sebelum musim dingin, sedangkan peralatan musim dingin bagi tentara Jerman tidak dipersiapkan, perbandingannya hanya ada satu pakaian musim dingin untuk lima tentara.
Di Ukraina, jalan-jalan sangat buruk. kondisinya penuh pasir pada waktu musim panas. Hal ini menyebabkan banyak kendaraan bermotor menjadi macet, terlebih ketika hujan mulai turun. Jalanan menjadi rawa-rawa dan kendaraan bermotor Jerman pun terpaku. kemajuan lambat: unsur blitzkrieg pun tamat.
Ketika hujan kemudian semakin deras, keadaan jalan semakin kacau. Hanya kendaraan beroda rantai yang masih dapat bergerak susah payah untuk menarik truk dari lumpur Rusia yg dikenal dengan sebutan rasputitza. Guderian mengeluhkan keadaan menyengsarakan ini.
Meskipun demikian, berkat divisi tank dan keuletan tentara Jerman, mereka akhirnya dapat merebut Kiev yang jatuh pada akhir September. Sekitar 665 ribu tentara Rusia terkepung dan tertawan di Kiev. Sungguh suatu kemenangan taktis.
Pada bulan September telah diputuskan kini giliran Moskow untuk direbut. Dilaksanakanlah Operasi Thypoon. Operasi serangan ini dimulai tanggal 2 Oktober dan pecahlah pertempuran hebat di Vyasma, di tengah jalan antara Smolensk dan Moskow. Sebelas hari kemudian tak kurang dari 650 ribu tentara Rusia tertawan bersama dengan 5.000 meriam dan 1.200 tank. Kemenangan masih tetap.dapat diraih oleh Jerman. Banyaknya tentara Rusia yang tertawan membuat Hitler semakin optimis dan merasa bahwa tentara Rusia sudah tidak berdaya sehingga ia sudah menyiapkan pasukan khusus untuk menghancurkan Kremlin.
Akan tetapi, segera semangat dan suasana di kalangan pimpinan dan tentara Jerman berubah seketika. Mereka heran dan kecewa bahwa pada akhir Oktober dan permulaan November, orang Rusia yang telah menelan begitu banyak kekalahan masih terus melanjutkan perlawanan. Pertahanan mereka semakin gigih dan sengit. Pimpinan tentara Rusia yang bertugas melindungi Moskow diganti oleh Marsekal Georgi Zhukov. Hutan-hutan disekitar Moskow pun dipenuhi ranjau dan rintangan kawat berduri. Sarang meriam dan senapan mesin disembunyikan secara pandai. Tentara baru dibentuk dan simbol masyarakat negara Rusia, kaum buruh, dikerahkan. Keterlambatan penyerangan akibat masalah Ukraina membuat Rusia mampu mengirimkan bala bantuan dari sebelah timur: tentara Siberia setelah Dr. Richard Sorge, seorang spionase Rusia, berhasil meyakinkan Stalin bahwa Jepang tidak akan menyerang Rusia dari timur. Kondisi-kondisi ini telah membalikkan keadaan pertempuran. Pasukan Jerman yang telah letih harus berhadapan dengan tentara Rusia yang masih segar, belum lagi ancaman musim dingin yang akan segera datang pada permulaan November 1941. Seolah-olah keadaan ini belum cukup menyengsarakan, muncul tank Rusia jenis baru: T-34 di medan pertempuran Vyasma. Tank ini lebih superior dan meriam antitank yang digunakan oleh infanteri Jerman tidak sanggup menjinakkan monster baja ini, hanya tank sekelas panther atau tiger I yang mampu menjinakkannya. Hitler kembali salah menduga karena sebelumnya jumlah divisi tank Rusia hanya sedikit dan kemenangan-kemenangan yg begitu cepat dalam menguasai wilayah-wilayah barat Rusia semakin membenarkan pandangannya, padahal jauh dari wilayah barat, di dalam pegunungan Ural, Rusia masih terus memproduksi tank. Teror tank telah dimulai di medan pertempuran Rusia.
Pada tanggal 26 Oktober, Marsekal vob Kluge memindahkan markasnya lebih dekat ke Moskow, yaitu dekat Naloyaroslavets. Dari jauh tampak Kota Moskow yang dikelilingi oleh sistem pertahanan yang dalan (in depth). Untuk menghadapinya, Jerman membutuhkan artileri dan kendaraat beratnya, tetapi itu semua telah tertahan rasputitza jauh di belakang.
Dalam bulan November diadakan rapat khusus membahas pilihan: tunda serangan sampai musim semi 1942 atau lanjutkan ofensif sampai musim dingin. Keputusannya adalah lanjutkan ofensif.
Pertengahan November masa rasputitza berakhir. Air mulai membeku. Serangan tank Jerman mula-mula berhasil. Jarak Moskow tinggal 40 mil. Akan tetapi mendadak tanggal 20 November “General Winter” menyerang dengan hebat. suhu merosot hingga minus 30 derajat. Salju mulai turun dan setibanya di terusan Moskova-Volga, tentara Jerman ditahan oleh pasukan Rusia yang masih segar. Tanggal 3 Desember Rusia mulai menyerang dengan tank dibantu oleh kaum buruh yang telah dikerahkan untuk mempertahankan kota.
Dimulainya operasi Typhoon akibat perubahan strategis, taktik, dan kampanye yang dilakukan Hitler telah menggagalkan rencana awal. Dengan demikian, Operasi Barbarossa telah berakhir. Operasi Typhoon masih terus berlangsung dan akan diikuti oleh pertempuran besar pada bulan Juni hingga September 1942 yang dikenal dengan sebutan Battle of Moscow.

Sumber
Hitler, Adolf. 2007. Mein Kampf. Jakarta: PT Buku Kita.
Ojong, P.K. 2009. Perang Eropa Jilid I.Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Toland, John. 1977. Adolf Hitler. New York: Ballantine Books.
id.m.wikipedia.org/wiki/Front_Timur_(Perang_Dunia_II)
https://www.google.co.id/amp/s/tentangnazi.wordpress.com/2012/06/25/operasi-barbarossa-22-juni-5-desember-1941-2/amp/